Suatu hari, sahabat saya pernah bilang, kehilangan orang tua adalah hal yang sudah pasti akan terjadi. Tapi, seandainya bisa..ingin rasanya detik-detik atau hari dimana kepergian orang tua kita itu di 'skip' saja, alias dilompati tanpa kita, orang yang ditinggalkan harus menghadapi suatu proses yang menyedihkan, yaitu detik-detik perpisahan. Yah, kalau saja bisa, tiba-tiba ortu kita tidak ada lagi di dunia, dan kita tidak harus menyaksikan saat dimana beliau menghembuskan nafas terakhirnya, pergi meninggalkan dunia, meninggalkan kita.
Saat itu, saya cuma manggut-manggut setuju pada ucapan sahabat saya. Kenyataannya, saya memang tidak bisa membayangkan sakit dan sedihnya rasa kehilangan itu. Saya tidak bisa membayangkan, karena walaupun saya tahu tidak ada manusia yang kekal, rasanya kematian hanya akan terjadi pada orang lain. Pada keluarga saya? Ah, ntar dulu..
Tapi, rupanya saat gilirannya sudah tiba juga pada saya. 23 Februari 2011 adalah saat terakhir saya berbicara dengan ayah saya yang selalu kami panggil bapak. Malam itu, bapak terkena serangan stroke yang ke 3 waktu sedang (atau mungkin sesudah) melaksanakan sholat Isya di mushola rumah kami.
Kakak saya yang pertama melihat bapak sudah tergeletak di mushola. Kakak berteriak memanggil ibu, dan kami pun berhamburan mendekati bapak. Saya melihat bapak masih dalam kondisi sadar namun sudah tidak bisa bicara dan melihat. Badannya sudah tidak berdaya hanya tangan kanannya masih sanggup menggenggam erat. Jika genggaman itu lepas, bapak menggapai-gapai. Maka kakak, saya dan adik bergantian menggenggam tangan bapak, meyakinkan bapak bahwa kami ada didekat beliau. Mungkin bapak panik atau kesakitan atau mungkin juga ketakutan karena tiba-tiba seluruh tubuhnya lumpuh. Sementara itu, ibu memeluk bapak sambil berulang-ulang mengucapkan istighfar di telinga bapak, dan minta bapak untuk menirukan. Bapak berjuang sekuat tenaga tapi tidak bisa.
Saya sadar, mungkin ini saatnya. Ketika bapak dibawa ke rumah sakit, dokter sudah menyerah. Hanya tinggal menunggu waktu. Saya berdoa, semoga ada mukjizat untuk bapak..tapi kalau memang sudah tiba saatnya, berilah saya kekuatan untuk menghadapinya. Alhamdulillah, Allah SWT memberikan saya kekuatan itu. Kami bertahan di rumah sakit, meskipun dokter mengatakan kecil kemungkinannya, tapi kami masih berharap keajaiban masih ada.
Saya disamping bapak selama bapak koma. Bergantian dengan ibu, kami terus melantunkan ayat-ayat suci ditelinga bapak. Menggenggam tangannya yang keriput, dan saya jadi teringat, tangan itu yang dulu pernah memandikan saya saat saya masih kecil, menggosok tangan saya, kakak dan adik saya dengan kuat sampai hilang semua dakinya. Yang membelai punggung kami, kalau kami bangun ditengah malam karena batuk-batuk. Yang sering mengusap-usap kaki kami untuk bangun sholat kalau kami masih tidur. Perlahan, tangan bapak sudah tidak bereaksi menggenggam tangan saya lagi. Saya rebahkan kepala di bahu bapak, disamping tempat tidur, merasakan nafasnya..menghayati setiap tarikan nafasnya yang saya sadari mungkin sebentar lagi akan terhenti. Seandainya bisa ingin saya rekam setiap tarikan nafas itu agar bisa selalu saya rasakan, namun saya hanya bisa menyimpannya dalam memori saya. Ada saat-saat, saya yakin bapak sesungguhnya masih sadar. Ketika saya dan ibu ingin mengganti baju bapak, dan kami kesulitan menopang badannya, air mata jatuh di sudut matanya. Ada kalanya, ketika hanya saya dan bapak berdua, saya ingin mengatakan betapa saya sangat menyayanginya, tapi saya tidak sanggup mengatakannya. Saya hanya bisa berbisik memanggil bapak, lalu air mata ini tumpah. Sungguh, saya sangat ingin mengatakannya karena seumur hidup saya tidak pernah bilang saya sayang bapak secara langsung. Dan saya menyadari itulah saat- saat terakhir, dan tidak akan lagi ada kesempatan lain. Tapi mungkin, rasa sayang ini melebihi dari apa yang bisa saya katakan, saya yakin bapak bisa merasakannya.
Ruangan tempat bapak dirawat tidak mengijinkan 2 orang menunggu sekaligus, sehingga kadang saya duduk sendiri di lobby, berdoa mengharapkan yang terbaik. Dan seperti rekaman film, ingatan saya kembali pada tahun-tahun yang lalu, di lobby itu, ditempat yang sama, disudut ruangan saya dan bapak pernah duduk berdua waktu menjenguk kerabat yang sakit. Kami saling mencurahkan perasaan dan berdiskusi tentang banyak hal. Tak pernah terbayangkan, beberapa tahun kemudian di tempat yang sama ini juga saya akan berada untuk menunggui bapak disaat-saat terakhirnya. Betapa kita tidak akan pernah tahu kapan, dimana dan bagaimana ajal akan menjemput kita.
Kondisi bapak terus menurun sampai akhirnya dipindahkan ke ruang ICCU. Dan dua hari kemudian, 25 Februari 2011 bapak benar-benar pergi meninggalkan kami, Bapak pergi di tengah malam yang begitu sepi, ketika nyaris semua penghuni Rumah Sakit sedang tertidur pulas. Saya pandangi monitor jantung yang terus turun pelahan. Ibu berbisik ditelinga bapak, Allah.. Allah.. disetiap tarikan nafas bapak. Sedih, ataukah pasrah? tidak ada air mata saat itu. Yang ada hanya keikhlasan dan keyakinan bahwa bapak sudah berada ditempat yang lebih baik. Saya membayangkan (mungkin terpengaruh film), bapak dengan fisik yang sehat, muda, ceria..berjalan di padang rumput yang hijau dan udara yang segar dengan tangan terbentang..menyambut kebahagiaan yang abadi.Saya cium pipi bapak, dalam hati saya bilang, "Selamat jalan, Bapak." Saya memeriksa jam pada HP saya, dan hati saya terasa lega, karena bapak pergi pada hari Jumat..hari yang dianggap baik. Menurut yang saya tahu, orang shaleh yang meninggal pada hari Jumat insya Allah terbebas dari siksa kubur. Di sepanjang lorong rumah sakit yang senyap, hanya terdengar suara langkah kaki kami dan roda kereta dorong yang membawa jenazah bapak menuju ambulan, ibu berkata pelan, "Bapak, ternyata sampai disini saja (perjalanan hidup bapak)". Saya diam tak menjawab.
Kini, beberapa bulan sudah sejak kepergian bapak, saya sering tidak menyadari bapak sudah tidak ada. Namun begitu saya ingat, rasa rindu langsung datang menyelinap dalam hati. Ingin rasanya mengulang saat-saat ketika bapak bersiap untuk sholat Jumat. Bapak akan memanggil saya untuk membantu membetulkan sarungnya, mengancingkan baju kokonya, dan menyisir rambutnya. Lalu saya akan mengantarkan ke depan, memakaikan sandal. Rutinitas setiap Jumat yang saya lakukan kalau ibu belum pulang dari sekolah satu tahun terakhir sebelum kepergian bapak.
Saya ingat, bapak tidak pernah memaksa saya berjilbab. Tapi ketika saya pulang ke rumah sudah berjilbab, wajah bapak berseri-seri dan berpesan dengan kata-katanya yang sudah tidak jelas (karena pengaruh stroke yang ke-2) supaya saya istiqomah. Ketika beliau masih sehat, beliau juga selalu mengajak kami sekeluaga shalat Subuh dan maghrib berjamaah, berdesakan di mushola kami yang tidak terlalu luas.
Satu lagi kenangan yang tak akan terlupa.. Bapak pernah membuatkan segelas kopi susu untuk saya waktu saya harus begadang menyelesaikan thesis. Ketika semua orang di rumah sudah pergi tidur, Bapak menghampiri saya ke kamar sambil membawa segelas kopi buatannya dan bilang, "Biar nggak ngantuk", lalu pamit pergi tidur. Selalu terbayang kini, bagaimana bapak berdiri di pintu kamar dengan segelas kopi itu.
Akhirnya, ketika saat itu tiba, suka tidak suka memang harus dihadapi. Semoga kini bapak bahagia. Bapak pernah bilang, kami harus jadi anak-anak yang solehah, semoga nanti kami semua bisa bertemu dan berkumpul lagi di surga. Aamiin..Insya Allah, Bapak..kita bertemu lagi di surga. Ya Allah, kabulkanlah doa kami..
Bapak, Santi sayang Bapak...you and ibu, are the best gift in my life. THE END

Memory of graduation day