Tuesday, April 3, 2012

It's called Freedom

Selalu ada konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil. Dulu, pertama kali saya memutuskan berhenti bekerja sebagai pegawai kantoran, saya merasakan kebebasan yang luar biasa. Bebas dari kewajiban pergi bekerja pagi-pagi, bermacet-macet ria, berdesak-desakan dalam bus atau KRL dan bebas untuk tidak mandi pagi dan ber make up.
Kapan saja, tanpa harus menunggu weekend atau tanggal merah..saya bisa pergi shopping, nonton bioskop, tanpa harus mengajukan cuti atau menerima telpon dari orang kantor yang mencari saya. Hahay..seneng banget, walaupun rasanya sepi karena tak ada sahabat yang menemani. Semua teman dekat saya pegawai kantoran :(
Tapi, sesungguhnya ada tanggung jawab lebih besar, yaitu bagaimana saya bisa membangun usaha ini supaya menjadi lebih besar. Dan itu menuntut kerja keras juga. Harus memutar otak agar rupiah tidak menjadi sen.
Sering kali, ketika pikiran buntu dan kantong sedang menipis, saya rindu jadi pegawai kantoran lagi. Khususnya rindu pada tanggal gajian^^.
Tapi tidak..saya tidak menyesal dengan keputusan saya untuk menjadi seorang entrepreneur. Meskipun uang tidak lagi sebanyak dulu, tapi saya merasakan kedamaian dan kepuasan batin.. Adakah yang lebih indah ketika kita menjadi milik diri kita sendiri? Ketika bangun tidur di pagi hari, selepas shalat subuh saya berhak mengambil keputusan untuk naik lagi ke tempat tidur dan menarik selimut atau langsung mulai bekerja di rumah, tanpa harus mandi, ber make up, bermacet ria di perjalanan menuju kantor.
Ketika saya masih menjadi pegawai kantoran, hal yang paling sering terjadi adalah kesiangan. Saya sering memulai hari dengan kesal karena ditegur HRD atau boss^^. Dalam hati saya ngomel, kenapa sih..Kan cuma terlambat 15-30 menit saja? Toh saya pulang kantor juga lebih lambat dari yang lainnya. Bahkan seringkali 1-2 jam setelah jam kantor selesai #pegawai songong. Dan..disitulah saya menyadari, being an employee is not my passion. Saya ingin menjadi orang yang bebas mengelola waktu saya sendiri. Dan..akhirnya, resign-lah saya..setelah mencoba bisnis kecil-kecilan.
Memang betul, awalnya sangat ganjil jika saya bertemu dengan orang baru. Entah di bank, entah ketemu teman lama.. ketika mereka bertanya, “kerja dimana?” lalu saya menjawab, “wiraswasta”. Saya seolah melihat dari ekspresi mereka: “Hmm..pengangguran”. Barulah saya sadar, betapa jadi tidak keren dan inteleknya saya.
Tapi, seiring waktu.. saya tanamkan pada diri sendiri. Saya tidak butuh penilaian orang lain tentang diri saya. Sepanjang saya mengerjakan pekerjaan yang tidak hina dimata Allah, selama saya mengerjakan sesuatu yang menyenangkan hati saya, I don’t care what people think. Inilah jalan saya. Walaupun saya tidak bisa lagi bebas membeli baju baru, tidak bisa lagi makan di restauran mahal, tidak bisa nonton bioskop 4x seminggu.. saya tidak lagi merasa sedih. Justru saya semakin menyadari kelalaian saya. Kenapa ya, dulu saya senang menghamburkan uang dan waktu untuk kesenangan dunia.
Kini..secara financial saya memang belum bisa dikategorikan sebagai entrepreneur yang sukses meskipun usaha yang saya jalani alhamdulillah semakin hari menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Namun, yang terpenting saat ini, saya merasa secara emosional saya lebih stabil. Hati saya tenang.. dan saya menghargai hal-hal sederhana yang dulu tak pernah saya renungkan. Kini, saya senantiasa bersyukur yang tak terhingga pada Allah SWT karena memberikan saya nikmat sehat. Dengan sehat inilah saya bisa mencari rezeki dimuka bumi dan beribadah kepadaNya dengan lebih sempurna. Saya menyadari, dunia bukanlah tujuan... Saya ingin kaya harta, tapi sendainya kakayaan itu membuat saya terlalu mencintai dunia..saya pilih tetap sederhana seperti saat ini. Insya Allah.. Allah maha tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.

** Tulisan ini tidak untuk membujuk siapapun berhenti menjadi karyawan, lho.. Just follow your heart, and do the best for your life ^_^

No comments:

Post a Comment